Tanpa Sahabat

By : Finy Arkana

Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian itu, dan aku belum menemukan cara terbaik untuk membunuhnya. Tidak mungkin aku masih menghargainya setelah apa yang telah dia katakan.

“Tidak perlu kau bayar hutangmu, Ri.”

Sempat aku merasa terharu. Rupanya dia begitu menghargai persahabatan yang telah kami jalani sejak masih berseragam putih merah. Nihil, semuanya sirna begitu dia melanjutkan.

“Kau berikan saja istrimu sebagai gantinya.”

Sialan! Dia masih bisa tersenyum jahil usai berkata demikian. Sementara telingaku serasa penuh bara api mendengarnya.

Sejak saat itu, dia resmi kupecat sebagai sahabat. Bahkan, aku merasa menyesal telah menjadikannya seseorang yang teramat berharga selama 19 tahun ini. Mengenalnya pun terasa menjijikkan. Dia bukan manusia. Dia binatang yang menyerupai manusia.

Kala itu, aku sampai tidak bisa berkata-kata. Aku terlalu terkejut. Sehingga yang kulakukan hanyalah menatap matanya dalam-dalam, kemudian membanting kursi yang sebelumnya terasa empuk, lalu meninggalkan rumah mantan sahabatku dengan berbagai macam pikiran.

Yap! Pikiran untuk melenyapkannya. Menurutku, tidak ada alasan terbaik bagi orang sepertinya untuk hidup lebih lama di dunia. Tidak akan ada pula yang bersedih atas kepergiannya.

Lalu, bagaimana cara membunuhnya? Menggunakan sianida? Bukan ide buruk. Aku hanya perlu datang padanya sambil tersenyum, berpura-pura meminta maaf karena pernah membanting kursi di depannya, lalu menawarkan secangkir kopi yang telah diberi sianida seperti peristiwa yang sempat heboh di berbagai media pemberitaan. Dia bisa meninggal dalam waktu sepersekian detik.

Tapi, meski bukan ide yang buruk, itu juga bukan ide yang baik. Kematiannya yang tiba-tiba bisa membuat gempar. Dan aku tidak begitu menyukai suatu situasi dimana aku harus menjadi sorotan.

Atau membunuhnya dengan badik hingga berdarah-darah? Sepertinya menarik. Bagai di film-film, setelah membunuhnya aku hanya perlu menyerahkan diri ke polisi untuk menerima hukuman mati. Namun, siapa yang akan menemani istriku di sisa hidupnya?

Beberapa kali, aku menyambangi rumahnya ketika dia sedang terlelap. Tak lupa kuselipkan parang panjang yang biasa kugunakan berkebun.

Ke dalam kamarnya, diterangi remang lampu tidur yang terletak di samping tempat tidur. Dapat terlihat bibirnya sedang tersenyum. Seolah mengejekku yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk melenyapkannya.

Perlahan, kucabut parang dari sarungnya. Mengangkat tinggi-tinggi. Bersiap untuk menebas  mulutnya yang terlalu lancang. Tanganku gemetar. Lututku pun demikian, bergetar tak henti-henti. Jelas terasa keringat dingin mengucur deras. Entahlah. Barangkali aku ketakutan, atau bisa jadi aku memang tidak sanggup untuk menyelapkannya. Perasaan itu masih ada. Aku masih belum sanggup kehilangan seorang sahabat.

Itulah mengapa hingga detik ini aku gagal menyelapkannya walau berkali-kali kesempatan datang. Terbuka bebas.

Tapi, malam ini, kupastikan misi yang berhari-hari terencana akan berjalan sempurna. Dia harus mati. Bagaimanapun caranya. Aku juga sudah tidak begitu peduli sanksi apa yang ditawarkan hukum negara pada pembunuh tak berduit macam diriku. Kini, yang aku tahu hanyalah bagaimana cara agar bisa melenyapkannya.

Maka, tidak heran jika sekarang aku telah duduk berhadapan dengannya. Memelototi wajah yang sedang tersenyum ramah di hadapanku. Sebuah lengkungan bibir yang semakin memaksaku untuk mengabadikannya dengan benda tajam nan panjang yang tersembunyi di balik baju. Tepat di pinggang kanan.

“Lama tidak melihatmu, Ri. Sepertinya kau sibuk sekali akhir-akhir ini.”

Terdengar terlalu ramah untuk ukuran seseorang yang berniat mengambil istri sahabatnya. Pikiran criminal memang susah ditebak. Tanpa aling-aling. Bertumpu pada amarah yang bertumpuk selama kurang lebih dua minggu, langsung kucabut parang dari sarungnya.

Kutebas dia bagai menebas pepohonan di kebun. Sampai kulit lehernya ada yang menempeli mata parangku. Selain karena terkejut. Dia memang tidak punya waktu banyak untuk menghindar.

“Ari!”

Dia berteriak. Mengerang tepatnya. Dia kesakitan.

“Impas,” bisikku.

Gantian. Hidup tak selamanya bahagia, bukan? Jika sebelumnya dia begitu bahagia di atas penderitaanku. Kini deritaku menjadi gilirannya.

Entahlah. Mungkin tujuh atau bisa jadi delapan lubang hasil karya tanganku berhasil mengabadi di tubuhnya. Tubuh sahabatku. Jelasnya, malam itu adalah malam berdarah.

***

Pagi-pagi sekali. Tujuh belas menit sebelum pukul enam aku membuka mata. Di depan tempat tidur kami, istriku tidak sanggup menahan air mata agar tak mengalir deras. Ia baru saja mendapat kabar akan kematian sahabatku.

“Padahal baru kemarin sore dia datang ke sini, Pak. Ketika kau ke kebun. Dia Mencarimu. Rindu, katanya, sudah lama tidak melihatmu.”

Cih! Ingin rasanya kusampaikan bahwa itu hanya dustanya untuk menemui istriku.

“Dia mau meminta maaf padamu, Pak, karena sudah bercanda keterlaluan. Tidak mungkin dia mengambil barang berharga miliki sahabatnya, katanya. Hutang-hutang kita tidak perlu dibayar, Pak. Dia ikhlas memberikannya. Bahkan sampai memberi uang segala.”

Dan, akhirnya aku merasa akan menjalani hidup yang sia-sia. Tanpa sahabat.

Related Posts: