Pangeran Kegelapan

*Bongkar file lama. Nemu ini.

By : Finny arkana

Entahlah, guru Jang dapat inisiatif dari mana hingga memberikan kepercayaan padaku menjadi seorang pemburu vampir. Dilihat dari sudut manapun, tidak ada tampang seorang pemburu di diriku.

Mungkin karena ucapanku yang terkesan lancang sampai dia Memberi hukuman. Memang, aku mengatakan padanya bahwa vampir tidak benar adanya, semua hanya mitos. Kala itu, guru Jang sangat menentang dengan sikap arogan.

Dan, di sinilah aku sekarang. Berpijak di atas bangunan tua nan gelap. Berhadapan dengan seorang makhluk kegelapan yang awalnya tak kupercayai keberadaannya di muka bumi. Ya, ini adalah pertemuan keduaku setelah kemarin malam.

“Kau benar-benar datang kembali?”

Suaranya memecah keheningan malam, membuatku kembali terperangah seakan tak percaya bahwa makhluk malam pengisap darah benar-benar ada. Walau ini pertemuan ke dua. Rasa percaya dan tak percayaku masih sama dengan kemarin, abu-abu.

Konon katanya, jika mencium bau darah. Makhluk ini akan menancapkan taringnya di kulit leher, kemudian mengisap darah mangsanya hingga tetes terakhir, itu pun jika mereka mau. Jika tidak?! Kutukan paling menjijikkan darinya adalah menjadikan mangsanya makhluk penghisap darah yang hidup abadi.

“Mengapa tak menjawabku, Nona?”

Sambil berjalan ke arahku, kembali dia
memberikan pertanyaan. Dapat kulihat bibirnya mengulum senyum. Aahh... dia memang tampan. Bahkan, sangat tampan. tidak heran dia bisa dengan mudah mengelabui mangsanya dengan
ketampanan yang lebih dari kata sempurna itu. Ya, aku akui makhluk ini memiliki kharisma yang lebih menonjol dari manusia.

Detik pun berlalu, dia semakin dekat. 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1 ..., kini, dia telah berdiri di hadapanku. Jaraknya teramat dekat. Hembusan nafasnya dapat kurasakan. Kututup mataku karena takut sekaligus deg-degan menahan rasa kagum akan
karismanya. Darahku seakan berhenti mengalir, sel-sel tubuhku menyuruh untuk meninggalkan ruangan tersebut, tapi kaki ini tak dapat melangkah.

Perlahan tapi pasti kubuka kelopak mataku. Kuperhatikan wajahnya di antara remang-remang cahaya bulan. Sangat berkarisma dengan wajah yang oval, bulu mata lentik, dan rambut yang tersisir rapi ke samping. Kulit putih pucatnya tidak mengurangi sedikit pun ketampanannya. Sepatu kulit berwarna hitam bersih tanpa noda, celana kain, dan jas yang melekat di tubuhnya semakin memperindah penampilannya.

“Bu... bukankah sudah kukatakan aku akan datang sekali lagi untuk menagih janjimu?”

Kuberanikan diri menjawab pertanyaannya. Gugup? Ya, aku sangat gugup bagaimana jika ia menerkamku? Bagaimana jika ia tiba-tiba mengisap darahku? Bagaimana jika ini, bagaimana
jika itu. Pertanyaan demi pertanyaan
menggerogoti otakku. Namun kuyakinkan diriku sendiri. Dia bukan manusia yang akan berbohong.

“Apa yang kau inginkan, Nona?”

Suaranya sangat lembut, Tuhan. Andai dia bukan vampir. Aku berharap dialah pendamping hidupku.

“Apa yang aku inginkan adalah apa yang kamu impikan,” jawabku tegas.

“Apa maksudmu?”

“Bawa aku ke duniamu.”

Sesaat dia terpaaku, mungkin bingung karena baru kali ini ada manusia bodoh yang ingin menyerahkan hidupnya pada makhluk kegelapan. Tatapannya tajam menusuk ke dalam jantungku. Untuk beberapa lama hening menyelimuti bangunan tua ini. Hanya suara tikus yang bercicit di tengah gelapnya malam. Disertai hembusan angin, hawa dingin memenuhi ruangan. Menggoyang-goyang sarang laba-laba di plafon. Sebelum akhirnya suaranya kembali terdengar.

“Ketika kau memutuskan untuk ikut, berarti kau telah bersedia kehilangan kehidupan terangmu.” Senyum simpul tergores di wajahnya.

“Aku sudah memikirkannya matang -matang.”

“Baiklah, jika itu keinginanmu.”

Ia menampakkan senyum evil. Matanya berubah merah menyala diikuti keluarnya taring dari bibir seksinya, lalu kekuatan berskala besar mengempaskan tubuhku ke dinding. Ah... bahuku sakit sekali berbenturan dengan tembok.

“Memangnya apa yang kuinginkan, Nona?” Tangannya mengapit dua sisi tubuhku.

Sedikit grogi aku menjawab. “Aku mendengar percakapanmu dengan guru Jang kemarin malam. Kau menyukaiku, bukan? Kau ingin aku menjadi sepertimu. Kalau begitu lakukanlah!”

Kutarik rambutku ke belakang agar mempermudah aksesnya. Tanpa ragu, kusodorkan makanan pembuka padanya.

“Lalu, apa impianmu?”

“Aku selalu ingin tampil berkarisma.”

“Kau sudah cukup berkarisma. Apa kamu yakin bisa menahan rasa sakitnya?”

“Cukup merubahku sekarang!!” bentakku.

Aku sudah tidak tahan dengan sikap lambannya. Jika terus seperti ini, aku bukannya mati karena gigitan. Aku akan mati kedinginan. Hawa dingin semakin menusuk sampai ke tulang. Rasanya seperti banyak salju yang menutupi ubun-ubun.

“Bersiaplah. Aku akan merubahmu, kamu akan merasakan sakit karena terinfeksi. Setelahnya, kamu akan berubah menjadi vampir.”

Lagi!! Matanya berubah merah menyala seperti darah. Taringnya yang tajam semakin dekat dengan kulit leherku. Aku baru tahu, sebelum menancapkan taringnya, vampir akan menjilat leher mangsanya terlebih dahulu. Beruntung, sebelum ke tempat ini guru Jang memberitahu kalau vampir alergi bawang putih. Hahaha!! Matilah kau monster pengisap darah. Kau sudah masuk ke dalam perangkapku.

“Kau mengoles kulitmu dengan bawang putih?!” ucapnya sambil memegang lehernya.

Suaranya tercekat di tenggorokan. Dia sedikit terdorong ke belakang. Sementara aku, senyum kemenangan tak kunjung hilang dari bibirku. Sedikit terbesit rasa kasihan melihat dia
kesakitan.

“Cukup membuat tenggorokanku panas.” Tatapannya setajam buzur menohok jantungku, “sayang, itu tidak berguna,” lanjutnya sambil memainkan kuku-kuku tajamnya di wajahku.

“Apa maksudmu?” tanyaku sedikit gemetar.

“Aku tidak akan mati karena bawang putih. Aku bukan vampir setengah manusia. Aku ... vampir darah murni. Tercipta dari leluhur.”

“What?! Jadi... kau tidak terinfeksi?” tanyaku lagi setengah tak percaya.

“Tenanglah. Aku akan membangunkanmu kembali.” Monster itu sumringah.

Secepat kilat, antara sadar dan tidak taringnya telah menancap, mengisap darah di seluruh sel-sel tubuhku. Mengambil kehidupan manusiaku. Herannya, aku tidak mati. Aku seakan terbangun dari tidur panjang.

“Kau mengingatku?”

Wajah pertama yang kulihat setelah membuka mata, yaitu ...

“Alex?”

“Kau mengingatku, Delia?”

Vampir yang sedari tadi kukagumi adalah tunanganku. Aku dilahirkan hanya untuk bertunangan dengannya. Ya, aku adalah vampir darah murni yang selama ini telah ditidurkan naluri vampirnya agar dapat merasakan kebahagiaan kehidupan manusia.

“Berterima kasihlah pada guru Jang, karena telah menidurkan naluri vampirmu dengan ramuannya,” ucap Alex sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran.

_the end_

Related Posts: