Lembaran Luka (2)


By : Finy Arkana
//
Part 2

Ditemani lagu-lagu sendu serta udara malam yang kian pekat, Arinang menikmati sebatang rokok dan segelas wine di villa almarhum papanya. Mata bulatnya menerawang jalanan yang semakin lengang. Sesekali terdengar ia mengembuskan nafas, berat. Seolah beban yang bertumpuk-tumpuk di pundaknya akan segera merenggut nyawanya.

Tepat di sepertiga malam Arinang beranjak. Kantuk memang belum menghampiri, tapi ia tetap harus beristirahat demi pekerjaan yang menanti. Ia seperti mempersembahkan hidupnya hanya demi pekerjaan itu. Tempatnya menciptakan tokoh-tokoh ilusi yang baik hati, atau membunuh tokohnya sendiri yang ia anggap bisa saja merusak keharmonisan sebuah jalan cerita kehidupan. Arinang selalu menghadirkan kisah-kisah bahagia dalam setiap tulisannya.

Arinang, si penulis bergenre romantic itu, menghentikan langkahnya dalam sekejap. Tubuhnya bergetar. Potongan peristiwa yang baru saja melintas di depan matanya, bak sebuah hantaman yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

Arinang tidak sanggup melangkah lebih jauh. Kamar di pojok kiri atas, berjarak tiga meter dari tangga, selalu berhasil menyeretnya pada masa-masa suram. Sebuah ruangan yang waktu itu dibuat segelap mungkin oleh ayah tirinya, ketika berkali-kali menjamah inci demi inci tubuh Arinang.

Usianya belum genap lima belas tahun ketika peristiwa yang membuat Arinang terus-menerus merasa kotor itu terjadi. Sebuah masa dimana Arinang lebih memilih untuk mati ketimbang menjalani kehidupan yang ia rasa seperti neraka bahkan sebelum kematian nyata menjemputnya.

Arinang masih ingat betul perasaan hancurnya saat itu. Tidak ada tempat untuk mengadu. Papa tempatnya melabuhkan sikap manja, meninggal saat usianya masih sebelas tahun. Sementara mama, yang ia sebut sebagai orang tua perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di luar daripada di rumah. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika Arinang mengadukan segala perbuatan papa tirinya ke mamanya, tidak ada sedikitpun kepercayaan untuk semua cerita-cerita Arinang.

“Papa itu orang baik. Dia orang yang disegani di tempat kerjanya. Mama tahu, kamu tidak rela mama menikah sama papa karena belum mampu ikhlas akan kepergian papamu, tapi mama harap kamu tidak membuat cerita palsu seperti ini,” tanggap mamanya jika Arinang mulai mengadu.

“Sumpah, Ma. Arinang tidak bohong. Dia bukan orang yang seperti mama selalu banggakan selama ini. Dia ….”

“Cukup, Arinang!! Mama tidak mau mendengar keluhan buruk tentang papa lagi!”

Selalu begitu. Namun, Arinang yakin, setiap kali mereka usai berdebat, mamanya akan menceritakan segalanya kepada papa tirinya.

“Ini hukuman karena kamu berani mengadu sama mama!” bentak papa tirinya suatu waktu di ruang gelap itu sambil mengikat tangan Arinang.

Kejadian tersebut berulang hingga 2 bulan sebelum Arinang menyusul kekasihnya ke ibu kota. Naas, seperti menaruh garam ke luka yang masih basah, Arinang mendapati kekasihnya sedang jalan dengan perempuan lain.

“Maaf, Arinang. Aku udah nggak mau sama kamu lagi. Kamu udah nggak suci.”

Kalimat itulah yang membuat Arinang hingga kini percaya bahwa semua lelaki sama saja. Brengsek!

Di sepertiga malam, sambil menjongkok dengan kedua tangan dilipat, tangis Arinang pecah mengenang semuanya. Namun, entahlah, Arinang merasa sebuah kehangatan sedang mendekapnya, lalu berbisik lembut.

“Arinang … Ayo pulang, Sayang.”

...

Related Posts: