Am Dilan (4)


By Finy Arkana
//
Part 4

“Itu pembunuhnya!”

Teriakan tersebut meluncur bebas dari bibir Zee, salah seorang siswa perempuan yang seragamnya paling mencolok di antara para manusia berseragam coklat. Motifnya persis seragam Dilan. Lengannya menggantung, jari telunjuknya menunjuk mantap dua orang di depan sana, tepat mengarah pada tubuh dengan lengan berdarah itu serta seorang perempuan yang sedang menggenggam benda tajam.

“Mereka pembunuhnya!” serunya tegas.

Seolah tak ingin lebih lama di ruang konseling. Dengan sigap kawanan polisi tadi bergerak. Langkah demi langkah mereka atur agar tetap siap siaga. Senjata yang tergenggam siap ditarik pelatuknya kapan saja andai sasaran bereksi di luar dugaan.

“Angkat tangan!” perintah sang Kapten, “Jatuhkan senjata anda!” lanjutnya.

Lamat-lamat, lepas juga benda lipat tersebut dari genggaman guru BK. Meluncur bebas. Dan akhirnya menyatu dengan lantai. Kedua tangannya terangkat sempurna. Bibirnya terkatup, pucat pasih.

Seiring diseretnya dua pelaku oleh sekelompok manusia berseragam coklat. Di depan mata Zee, seolah sedang terputar sebuah rekaman, penampakan peristiwa paling mengerikan yang pernah terekam indra penglihatannya sejak terlahir ke dunia.

***
*Sebelum Penangkapan

Suasana kelas hening. Tak ada suara yang keluar dari bibir dua orang di dalam sana, lalu dalam sekejap, salah seorang dari mereka mengayun lengan ke atas, hingga benda tumpul dalam genggamannya mendarat indah di punggung tangan rivalnya, menghasilkan cipratan darah yang melukisi wajah si penusuk.

“Dilan?” Zee membekap mulutnya dengan telapak tangan. Seketika tubuhnya terasa lumpuh. “Apa yang dia lakukan ke Yugo?” lanjutnya terbata-bata.

Lutut gemetar serta telapak tangan yang berkeringat dingin memaksa Zee untuk lekas meninggalkan pintu kelas. Dengan cepat. Sebelum kehadirannya disadari oleh dua orang di dalam sana. Langkahnya tak pasti. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah menjauhi ruang kelas.

Keringat dingin mengucur ke seluruh tubuhnya. Zee tidak mampu berdiri lebih lama. Tubuhnya limbung. Namun, belum juga ia sempat mengempaskan diri ke atas pembaringan UKS, terdengar derap kaki yang semakin mendekat.

Disisa tenaga, ia menggiring kaki ke samping lemari, tempat penyimpanan obat. Masih dengan tangan bergetar, ia membekap mulutnya sendiri, berusaha meredam bunyi-bunyian yang mungkin saja tercipta tanpa sengaja.

Meski demikian. Rasa penasaran kian merayap dalam batinnya. Ia sedikit mencondongkan kepala. Korneanya membulat.

“Yugo?” bisik batinnya. Cowok itu bergerak ke sana-ke mari. Langkahnya tak keruan. “Apa mungkin dia sedang mencari obat?” lanjutnya.

Prihatin. Demikian perasaan yang menyergap hati Zee. Dirinya dilema antara menawarkan pertolongan atau tetap bungkam di balik lemari. Sebab, Yugo dikenal sebagai biang masalah.

Sejenak, Zee menghilangkan prasangka buruk mengenai Yugo. Dengan sisa energi. Ia menopang tubuh untuk berdiri.

“Yugo!”

Zee menarik diri. Kembali pada posisinya semula. Sekali lagi, korneanya membulat sempurna. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Seluruh tubuhnya gemetaran. Bahkan, telapak tangan yang digunakan membekap mulutnya sendiri telah basah oleh peluh. Sempurna. Ia pucat pasih.

“Bu Syifa?” bisik Zee tak percaya.

Seperti film horror yang diputar berulang-ulang di depan mata. Zee tidak mampu untuk bertahan lebih lama. Di depan matanya, Bu Syifa, sang guru BK yang begitu dihormati sedang melayangkan benda tajam, dan mendarat sempurna tepat di bola mata Yugo.

Serupa pancuran air, cairan merah kental terpercik dari dalam sana, melukisi dinding-dinding ruang UKS yang bernuansa putih.

Yugo tidak sanggup untuk menghindar lebih jauh. Sementara guru BK semakin memperksempit jarak antara mereka. Pisau lipat yang berkilauan di tangannya kembali terangkat, melayang, namun tidak mendarat indah.

Yugo berhasil menghindar.

Jelas, hal tersebut membuat guru BK berang setengah mati. Tanpa babibu, ia melayangkan sayatan-sayatan ke bagian-bagian tubuh Yugo yang berhasil tersentuh pisaunya. Tak peduli di mana tempatnya. Yang terpenting adalah dia harus melukai tubuh di hadapannya sebanyak mungkin. Menusuknya berkali-kali.

Sekilas, sebelum tubuh Yugo benar-benar tumbang, dapat tertangkap oleh indra pendengaran Zee suara yang sungguh putus asa, namun tetap penuh dendam pada tiap pengucapannya.

“Ini adalah balasan atas pelecehan seksual yang kau lakukan pada anakku!”

Dan, untuk terakhir kali, ujung runcing pisaunya ditancapkan pada punggung tangan remaja cowok tersebut, bekas tusukan Dilan.

***

“Bukan saya pembunuhnya!” Dilan berontak.

“Jelaskan di kantor nanti!” bentak polisi seraya menyeretnya.

Tepat ketika dia melewati Zee, sorot matanya berkilat, tajam, memandang nyalang remaja cewek tersebut.

“Akan kubalas kau,” bisiknya lirih.


(End)

Related Posts: