Kesayanganku Yang Manis

Oleh : Finy Arkana

Dia bukan lagi kesayanganku yang manis. Dia terlihat mengerikan. Sebilah parang merenggut kaki kanannya. Beberapa peluru berhasil melubangi bagian-bagian tubuhnya. Semua ini karena ulah seseorang yang telah merusak tubuh kesayanganku, merenggut jiwanya.
"Anjing gila itu sudah menggigit orang lain."”
Begitu katanya, berusaha melakukan pembelaan ketika kumintai pertanggungjawaban atas perbuatannya pada kesayanganku.
"Bagaimanapun, anda tetap harus meminta izin pada pemiliknya sebelum membunuhnya," sanggahku tidak terima.
Lelaki itu berkacak pinggang. Dia angkat sedikit dagu sehingga meninggalkan efek pongah.
"Kau lihat sendirilah hasil perbuatan anjingmu," katanya seraya berlalu.
Aku mengikuti langkahnya. Hawa dingin serasa menggores kulit. Barangkali disebabkan keringat dingin yang mulai mengucur akibat mati-matian menahan amarah. Entahlah. Aku masih setia mengikut di belakang sambil memasukkan tangan ke saku jaket. Meremas benda tajam yang terlipat.
Dia membawaku ke sebuah rumah sakit. Langkahnya teramat ringan menyusuri lorong demi lorong, membawa tubuhnya ke salah satu ruangan.
Seorang dokter dan anak kecil berusia sekitar 5 tahunan menjemput kedatangan kami. Pada tubuh si kecil ada perban membalut kepala hingga seluruh wajahnya. Sementara, aku masih berdiri sambil memegangi pegangan pintu ketika lelaki tadi memohon kepada dokter agar membuka perban tersebut walau hanya beberapa menit.
Awalnya ditolak. Tapi melihat kesungguhan lelaki itu, ia luluh juga. Tangannya bergerak lambat. Pelan tapi pasti perbannya mulai menipis sampai terlepas sepenuhnya.
"Lihatlah hasil perbuatan anjing itu!"
Entah ekspresi macam apa yang kini sedang tergambar di wajahku. Jelasnya, aku merasa mual melihat pemandangan di depan sana. Walau telah diberi beberapa jahitan, tetap saja ketahuan bahwa sebagian wajah anak perempuan yang sedang terkulai lemas di atas ranjang telah hilang.
"Anjing itu memakannya," lanjutnya.
Mataku menyipit untuk memperjelas penglihatan. Betul katanya, kesayanganku telah memakan daging bagian pipi kanan anak malang itu.
"Menjijikkan!" desisku.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya aku pamitan. Lelaki itu mengantarku sampai depan rumah sakit.
"Sekalian mengurus administrasi," katanya.
Aku tidak keberatan. Dia bahkan meminta maaf. Aku hanya mengangguk. Ekspresiku datar. Tanganku masih meremas benda lipat di saku jaket, menunggu moment pas untuk membalas perbuatannya.
Bagiku, bagaimanapun kesalahan kesayanganku, jika harus mati, orang lain tidak pantas mengeksekusinya selain diriku sendiri, tuan yang mengajarinya cara membunuh.

Related Posts: