Jangan Sentuh Lelakiku


Oleh ; Finy Arkana
Tidak jauh dari tempatku berdiri. Tak sengaja terdengar suara seolah membisik, samar-samar. Sekilas aku melirik, seorang perempuan sedang berusaha berbicara pada lelakiku. Karena penasaran, aku pasang telinga dengan baik, menajamkan pendengaran.
"Jangan nikahi dia. Pikirkan lagi, Mas," katanya.
"Kenapa?"
"Dia egois."
"Egois? Maksudmu?" Kening lelakiku mengkerut.
"Masa dia harus menyuruhmu minta maaf sampai segitunya."
Aku memang pernah menyuruh lelakiku meminta maaf dengan cara yang berbeda dari orang lain. Mungkin menurut mereka itu di luar batas wajar. Tak masuk akal. Namun, bagiku itu sah-sah saja selagi lelakiku masih menyanggupi.
"Tidak apa. Saya yang salah memang," tutur lelakiku lembut.
"Dia sudah mempermalukanmu."
"Saya yang mempermalukan diri sendiri. Seharusnya saya bisa lebih dewasa ketika meminta maaf. Tidak kekanakan."
"Dia itu angkuh, pemarah. Tidak pantas untukmu, Mas."
Aku tidak tahan untuk berdiam diri lebih lama. Selain menjatuhkan harga diriku, perempuan itu juga berani menyentuh sesuatu yang tidak boleh ia sentuh, lelakiku. Ia berusaha menggayuti lengannya.
Seiring makin dekatnya jarak antara aku dan mereka. Tanganku bergerak cepat mengambil silet di saku celana.
"Sudah selesai milih buahnya, sayang?" sambut lelakiku. Aku mengangguk sebagai pengganti jawaban. "Yuk, pulang," lanjutnya.
Sambil memberikan kantong berisi buah, aku tersenyum lembut padanya seraya berkata, "Kamu ke parkiran duluan. Aku mau beli perlengkapan make up dulu."
Lelakiku setuju saja. Dia berlalu setelah sebelumnya membagi senyum pada perempuan itu.
"Ada masalah, Mbak?" tanyaku lembut sambil tersenyum manis.
"Nggak ada kok," jawabnya sedikit gelagapan.
Aku tersenyum. Tangan kananku menjulur untuk menyalaminya, dia pun menyambut, "Sepertinya Mbak cukup mengenal saya."
Senyumnya kecut. Ia tak berani memandang langsung manik mataku. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mendekatkan bibir ke telinganya.
"Jangan berani berceloteh tentang orang lain sebelum benar-benar mengenalnya," bisikku. "Hal itu bisa jadi bumerang untuk diri sendiri."
Kemudian, kugerakkan secara lambat silet yang sejak tadi setia berdiam diri di tangan kiriku. Mengiris lengan perempuan itu dengan pelan serta penuh perasaan. Ia tersentak. Sontak menarik tangannya dari genggamanku.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya.
"Ups! Astaga!"
Aku menutup mulut dengan tangan, seolah terkejut akan apa yang kuperbuat. Sedetik kemudian tanganku terayun demi menyentuh lengan kirinya, tapi dengan sigap dia menghindar. Mungkin dia trauma.
Bibirku melengkung sempurna, mataku sedikit menyipit, benar-benar senyum terbaik yang kuberikan.
"Ah ... Kupikir Mbak sudah mengenalku dengan baik. Ternyata tidak. Buktinya, Mbak masih belum tahu bahwa saya adalah pendendam yang baik."
Seketika matanya membulat. Perempuan itu langsung balik badan tanpa perlu adanya aba-aba. Sementara di belakang, aku mengambil sapu tangan dari tas, berusaha membersihkan percikan darah yang menempel.

Related Posts: