Perempuan Yang Memakan Ibu


Entah kengerian apa lagi yang akan perempuan itu lakukan. Setelah kemarin malam ia membagi tubuh saudaraku menjadi potongan-potongan kecil. Kini giliran ibu. Aku tak berdaya. Perempuan itu mengikat kakiku dengan tali teramat kuat, mulutku pun demikian. Ia tutup seluruh akses agar kutak dapat meminta pertolongan, kecuali satu, mata. Mungkin ia sengaja ingin memperlihatkan bagaimana caranya membagi tubuh ibu menjadi bagian-bagian kecil.
Sejak sejam lalu rasanya perutku telah dikocok. Aku mual. Separuh tubuh ibu hampir habis. Dan aku hanya bisa menonton. Kaki yang dulu menemaniku berjalan telah dipotong selutut. Kepalanya entah dilempar ke mana oleh perempuan itu. Tak lagi bisa kutemukan kehangatan dalam dekap ibu. Dadanya terbelah.
“Ini bagian paling enak.”  Sambil mengangkat potongan hati ibu, perempuan itu melukis senyum terbaiknya.
Tidak lupa ia mengangkat bagian usus dan isi perut lainnya, seolah dengan sengaja memamerkan kemenangan di depan mata anak malang ini. Potongan-potongan tubuh ibu yang telah bersih, kemudian ia masukkan ke dalam wajan, lalu memasaknya. Ditambah bumbu-bumbu khas. Dapur ini terasa semakin mengerikan.
“Ma, aku pulang.”
Lihatlah, betapa hangat senyumnya mendapati si kecil pulang dari sekolah. Aku tidak habis pikir. Mengapa perempuan itu tega melakukannya pada ibu? Padahal dia juga ibu dari seorang anak. Tidakkah dia berpikir bahwa tindakannya itu telah merampas kebahagiaan seorang anak. Tapi, aku bisa apa selain mengutuk diri sendiri yang tak mampu melakukan apa-apa demi menyelamatkan ibu, bahkan nyawaku sendiri terancam melayang di tangan perempuan itu.
“Hari ini kita makan daging lagi, Ma?”
“Iya sayang,” jawabnya sambil mengelus lembut kepala si kecil.
“Besok?”
“Kita akan makan daging lagi,” katanya sambil melempar pandang padaku.
Oh, Tuhan. Perempuan itu mendekat. Ia membawa sepiring makanan. Makanan yang sama yang dihidangkan untuk ibu kemarin. Masih dengan senyum terbaik menghiasi bibirnya, tangannya bergerak, membuka ikatan di mulutku.
“Makanlah. Ini hari terakhirmu.”
Aku berteriak. Memasang wajah sendu. Memohon belas kasih. Naas, perempuan itu semakin melebarkan senyum.
“Sudah. Makan saja. Jangan berkotek terus,” katanya sambil mengelus kepalaku.
Saudaraku, ibuku, dan aku, kenapa harus berakhir di tangan perempuan ini???
....
SELAMAT MALAM
Finy Arkana

Related Posts: